Senin, 27 Juni 2016

#KutipanFavorit : "Suara Dilan" - Pidi Baiq Part. 2

Aku tahu Lia belum resmi jadi pacarku. Dia masih bisa bebas dengan siapa saja mau pergi. 
Oke. Kalau aku jangan cemburu, mungkin aku hanya merasa kecewa!
Mengapa kecewa? Kalau kecewa, itu gak adil buat Lia, karena Lia bukan pacarku, dia bisa pergi dengan siapa pun selain aku, bahkan tanpa harus bilang kepadaku.
Oke
Juga jangan marah. Aku harusnya jangan berfikir apa yang Lia inginkan dengan pergi bersama Kang Adi ke ITB. Harusnya aku lebih berfikir apa yang aku inginkan ketika aku merasa harus marah ke Lia?
Oke
Dan juga jangan bodoh dengan berpikir Lia tidak boleh bergaul dengan yang lain dan hanya harus dengan diriku.
Oke
Ingat, Lia bukan pacarku, dia hanya orang yang dekat denganku.
Oke. Kalau begitu, mari kita membuat hal yang jelas untuk itu. Waktunya sudah datang, besok aku akan bilang ke Lia bahwa aku ingin berpacaran dengannya.
Dilan, people really need to be like you. Lol

Minggu, 26 Juni 2016

#KutipanFavorit : "Suara Dilan" - Pidi Baiq

“Kalau dia bilang “Anjing” ke kamu, ya harus kamu gigit dia’, kataku. “Kan kata dia juga kamu Anjing”
“Bener”
“Kalau dia bilang “Monyet” ke kamu, ya harus dicakar. Kata dia juga kan kamu monyet”, kataku lagi
“Kalau dia bilang ke saya “Ganteng?”, tanya Akew
“Jangan percaya,” kujawab. “Bohong dia”
“Ha ha ha”
Cuplikan dari "Suara Dilan" milik ayah Pidi Baiq. Entah kenapa tiba-tiba aku jatuh cinta sama tulisan ayah Pidi.

Silhouettes on the Fog



Sabtu, 25 Juni 2016

Draft: 6 Juni 2016

Sejak pertama bertemu tak pernah ku kira kita bisa sedekat ini. Aku hanya bisa membayangkan, bagaimana rasanya dekat denganmu. Menceritakanmu kepada teman-temanku, tanpa harapan bisa bertemu kembali. Tentu saja semua menganggapku bodoh.

Dulu, sesuai pertemuan kita aku hanya bisa membayangkan bersamamu tanpa berani berharap.  Dan memantapkan hati, untuk mengagumimu dalam diam.

Tak kusangka pesan candaanku pada sahabatku -yang ia kirimkan padamu- berakhir seperti ini.
Berakhir dengan kau ikut-ikutan mencintaiku. Menjalin cinta tanpa kejelasan selama lima bulan.Bertengkar, kembali, bertengkar, dan terus kembali hingga kini. Dimana kita harus terpisah jarak, demi masa depanku -dan kuharap juga kita-.

Kupikir ini akan baik -baik saja, karena jarak usia kita yang jauh tak pernah menganggu. Tapi kau ungkapkan ke-tidak-sanggupanmu pada jarak antar kota.

Tahukah kau? Tidak pernah ada yang membuat imajinasiku -kebanyakan yang liar- menjadi senyata saat bersamamu. Tidak ada yang mengungkapkan suara dalam pikiranku, sama persis.

Itulah mengapa kupikir kita sehati, sepikiran, dan sejiwa.

Semoga saja Tuhan mengabulkan doaku. Membuka pintu hatimu untuk bertaubat -ini untuk restu ayah-, memisahkan jarak antara kita -untuk kita-, dan menjadikanku tulang rusukmu -untuk kebahagiaan kita-.

Draft: 7 Juni 2016

Ku kira kau bakal mendekapku lebih erat ketika aku pergi. Ternyata itu hanya imajinasiku saja.

Ku kira kau bakal mengecup keningku dan ucapkan "Sampai jumpa kembali". Ternyata kau lepas saja aku dengan rela.

Draft: 15 Juni 2016


Sebelumnya,
tak pernah ku sejujur ini akan perasaanku.

Sebelumnya,
tak pernah ku melangkah sejauh ini dalam alur hati.

Sebelumnya,
tak pernah ku seegois ini dalam mencintai.

Sebelumnya,
tak pernah kurasakan takut akan kehilangan seorang.

Sebelumnya,
tak ada yang pernah mengubah cara pandangku.

Sebelumnya,
tak pernah seindah ini hari-hariku.

Sebelumnya,
sebelum ini,
sebelum aku mengenalmu.

A.

Dia. Yang tak kusebutkan namanya.
Namun selalu kusematkan dalam doa.
Agar kami berjodoh.
Dan berjumpa kembali, menyanding di pelaminan.

Dia. Yang membuatku bahagia daripada sebelumnya.
Mengubah warna duniaku, cara pandangku akan dunia.

Dia. Yang menjadikanku pribadi yang lebih baik baginya.
Tetapi tidak untuk menjadi miliknya.
Tidak untuk melayaninya.

Dia. Hanya dia.
Tak pernah aku merasa sehidup ini oleh cinta.
Dan tenggelam juga olehnya.

Dia. Tak ada kata yang mampu menggambarkannya.
Semua kata ini percuma.

Dia. Cintaku, yang pertama. Dan semoga menjadi yang terakhir.

Cinta dan Cita

Cinta dan cita.

Cinta? Ah tidak perlu penjelasan lagi bukan, tentang makna cinta?

Cita? Cita-cita. Suatu hal yang kita inginkan dan akan kita usahakan untuk meraihnya.

Dalam perjalanan hidup, kita selalu didampingi oleh cinta dan cita-cita.

Tapi tak semua cinta mendukung cita-cita. Tak semua cita-cita sejalan dengan cinta.

Meskipun setiap orang bermimpi semua cita-citanya akan berjalan mulus berdampingan dengan cinta.

Ada saatnya, dimana kamu harus memilih cinta atau cita-cita.

Jika kamu paksakan keduanya berjalan bersama, bisa jadi hancur bertubrukan.

Jika kamu pandai mensiasati cinta, dan merayu fortuna, mungkinkah keduanya akan seirama?

Jumat, 24 Juni 2016

UDNIR

Setahun lalu aku sempat membaca sebuah cerita, yang aku sendiri lupa akan judulnya. Yang ku ingat, ada dua orang perempuan bersaudara dimana mereka mencintai pria yang sama. Lalu salah satu di antara keduanya, berhasil menjadi kekasih pria itu -seingatku yang lebih tua-. Setelah beberapa bulan dekat, perempuan yang lebih tua itu merasa rindu pada sang kekasih, kedua orangtuanya, sahabatnya, teman-teman, dan saudara yang setiap hari ditemuinya. Dia merindukan orang-orang di sekitarnya, dan merasa jauh padahal mereka dekat.

Dan pada akhirnya, itu adalah sebuah firasat. Dan perempuan yang lebih tua itu menutup usia. Dan si pria menjadi milik saudarinya.

Ada yang tahu itu cerita apa?

Itu yang kurasakan 3 hari terakhir ini. Merindu orang-orang di sekitarku. Yang selalu bersamaku.

Rasanya mereka jauh.